Update Kebijakan Subsidi & Bansos

Bappenas: Atasi El Nino Perlu Kebijakan Sesuai Daerah

Bappenas Susun Respons Spesifik Wilayah Hadapi Dampak El Nino Kuat

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menegaskan bahwa penanganan dampak El Nino tidak dapat menggunakan satu kebijakan yang sama untuk seluruh wilayah Indonesia. Pemerintah perlu menerapkan strategi berbeda sesuai karakteristik daerah dan sektor yang terdampak.

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Nizhar Marizi menyampaikan, setiap wilayah memiliki potensi risiko dan peluang berbeda ketika menghadapi fenomena El Nino kuat. Karena itu, intervensi harus disusun berdasarkan kondisi geografis, jenis dampak, serta kebutuhan masing-masing sektor.

Baca Juga “Penjelasan OJK Soal Isu Defisit dalam Laporan Keuangan 2025

“Dengan berbeda-bedanya karakteristik potensi dampak El Nino di setiap wilayah, tidak ada satu intervensi yang bisa menjawab dan diterapkan di seluruh wilayah secara seragam,” ujar Nizhar dalam Dialog Nasional “Memperkuat Respons Lintas Sektor Dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat” di Gedung Bappenas, Jakarta.

Dampak El Nino Berbeda di Setiap Wilayah Indonesia

Bappenas mengidentifikasi bahwa El Nino kuat dapat memberikan dampak berbeda di sejumlah wilayah besar Indonesia. Pulau Sumatera dan Kalimantan berpotensi menghadapi peningkatan risiko kebakaran lahan, berkurangnya ketersediaan air, penurunan produksi pertanian, serta meningkatnya risiko gangguan kesehatan.

Di Pulau Jawa, dampak utama yang perlu diantisipasi mencakup penurunan ketersediaan air dan produktivitas pertanian. Selain itu, wilayah ini juga berpotensi mengalami peningkatan kebakaran lahan dan gangguan kesehatan masyarakat.

Sektor energi di Jawa juga dapat terdampak melalui penurunan produktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM). Namun, kondisi cuaca kering akibat El Nino berpotensi meningkatkan produktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) serta produksi garam.

Wilayah Bali dan Nusa Tenggara menghadapi risiko serupa, terutama terkait penurunan ketersediaan air dan produksi pertanian. Meski demikian, kawasan tersebut memiliki peluang peningkatan produktivitas PLTS dan sektor rumput laut.

Sementara itu, Sulawesi berpotensi mengalami tekanan pada sektor pertanian, sumber daya air, kesehatan, serta perikanan budidaya. Penurunan produksi PLTA/PLTM juga menjadi perhatian. Di sisi lain, perikanan tangkap dan budidaya rumput laut memiliki peluang untuk berkembang.

Untuk wilayah Maluku dan Papua, dampak El Nino diperkirakan lebih banyak berkaitan dengan sektor kesehatan serta kelautan dan perikanan. Kondisi tersebut juga membuka peluang peningkatan produktivitas perikanan tangkap dan rumput laut.

Bappenas Dorong Kebijakan Berbasis Wilayah dan Sektor

Nizhar menjelaskan, Bappenas menyusun respons menghadapi El Nino berdasarkan kombinasi lokasi, jenis dampak, serta karakteristik setiap sektor. Pendekatan tersebut bertujuan agar kebijakan yang diterapkan lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan daerah.

“Respons yang disusun dalam policy brief ini melihat kombinasi antara lokasi, jenis dampak, dan karakteristik masing-masing sektor. Respons tersebut bersifat spasial dan spesifik sehingga tidak sama di setiap wilayah,” kata Nizhar.

Menurut Bappenas, El Nino kuat tidak hanya membawa risiko terhadap pembangunan nasional, tetapi juga menghadirkan peluang yang dapat dimanfaatkan melalui strategi adaptasi yang tepat.

Fenomena iklim tersebut membutuhkan kerja sama lintas sektor karena dampaknya berkaitan dengan berbagai bidang, mulai dari lingkungan, pertanian, energi, kesehatan, hingga pangan berbasis kelautan.

Empat Klaster Utama Dampak El Nino yang Perlu Diantisipasi

Bappenas membagi dampak El Nino ke dalam empat klaster utama. Klaster pertama mencakup hutan, lahan, dan pertanian. Sektor ini berpotensi mengalami peningkatan kebakaran hutan dan lahan serta penurunan produktivitas sejumlah komoditas seperti padi, kelapa sawit, dan kopi.

Namun, kondisi El Nino juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi tanaman tertentu, seperti palawija, hortikultura, dan tebu melalui pengelolaan yang sesuai.

Klaster kedua adalah energi dan sumber daya air. El Nino berpotensi mengurangi ketersediaan air dan menekan produksi listrik dari PLTA maupun PLTM. Sebaliknya, peningkatan intensitas sinar matahari dapat mendukung optimalisasi pembangkit listrik tenaga surya, termasuk PLTS atap.

Klaster ketiga berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Perubahan pola cuaca akibat El Nino dapat meningkatkan risiko penyakit yang sensitif terhadap iklim, seperti demam berdarah, malaria, pneumonia, dan diare.

Klaster terakhir adalah pangan akuatik. Sektor perikanan budidaya seperti lele, nila, udang payau, serta rumput laut berpotensi mengalami penurunan produktivitas. Namun, perikanan tangkap seperti cakalang, tuna, dan tongkol memiliki peluang peningkatan hasil pada kondisi tertentu.

Strategi Adaptasi Menjadi Kunci Menghadapi El Nino

Pemerintah menilai pendekatan berbasis wilayah menjadi langkah penting untuk menghadapi dampak El Nino kuat. Dengan strategi yang sesuai karakter daerah, risiko terhadap pembangunan dapat ditekan sekaligus peluang ekonomi dapat dimanfaatkan.

Ke depan, koordinasi antarinstansi dan penguatan kebijakan adaptasi iklim menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan, energi, kesehatan, serta lingkungan. Pendekatan yang lebih spesifik diharapkan mampu membuat Indonesia lebih siap menghadapi perubahan iklim dan fenomena cuaca ekstrem.

Baca Juga “Bappenas sebut pendanaan pemerintah memadai tangani dampak El Nino