Bulog Catat Multiplier Effect Pengelolaan Pangan Capai Rp48,54 Triliun
Perum Bulog mencatat peningkatan dampak ekonomi berantai (multiplier effect) dari kegiatan pengadaan dan pengelolaan pangan hingga mencapai Rp48,54 triliun pada semester I 2026. Nilai tersebut menunjukkan kontribusi sektor pangan terhadap pergerakan ekonomi nasional, mulai dari tingkat petani hingga masyarakat sebagai konsumen.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan, nilai multiplier effect tersebut meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Pada 2025, aktivitas pengadaan dan pengelolaan pangan Bulog menghasilkan dampak ekonomi sebesar Rp34,99 triliun.
Baca Juga “OJK Bentuk Satgas Bursa Mineral dan Kawasan Strategis“
Menurut Rizal, angka tersebut menggambarkan luasnya aktivitas ekonomi yang tercipta melalui berbagai tahapan, mulai dari penyerapan hasil panen petani, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga perdagangan pangan.
Pengadaan Pangan Bulog Dorong Aktivitas Ekonomi dari Hulu hingga Hilir
Bulog terus menjalankan peran strategis sebagai instrumen pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Selain memastikan ketersediaan cadangan beras pemerintah (CBP), Bulog juga berperan menjaga stabilitas harga pangan dan menggerakkan aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
Melalui penyerapan hasil produksi dalam negeri, Bulog memberikan kepastian pasar bagi petani. Aktivitas tersebut membantu menjaga harga hasil panen sekaligus mendorong keberlanjutan produksi pangan nasional.
Sepanjang 2025, Bulog mencatat pengadaan gabah kering panen (GKP) mencapai 4,53 juta ton. Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dan memperkuat cadangan beras nasional.
Rizal menjelaskan, penugasan pemerintah kepada Bulog tidak hanya berfokus pada pengelolaan stok pangan. Kegiatan tersebut juga menciptakan rantai ekonomi yang melibatkan petani, pelaku usaha pengolahan, sektor logistik, hingga perdagangan.
“Nilai multiplier effect dari kegiatan pengadaan dan pengelolaan pangan Bulog tercatat sebesar Rp34,99 triliun pada 2025 dan meningkat menjadi Rp48,54 triliun pada semester I 2026,” ujar Rizal.
Program SPHP dan Bantuan Pangan Beri Dampak Ekonomi bagi Masyarakat
Selain menjalankan fungsi pengadaan pangan, Bulog juga berperan dalam menjaga keterjangkauan harga melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan.
Program SPHP bertujuan memastikan masyarakat memperoleh beras dengan harga yang sesuai. Pemerintah menetapkan harga maksimal beras SPHP sebesar Rp12.500 per kilogram untuk sejumlah wilayah seperti Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi.
Sementara itu, harga maksimal beras SPHP ditetapkan Rp13.100 per kilogram untuk wilayah Sumatera lainnya, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan. Untuk wilayah Maluku dan Papua, harga maksimal berada pada level Rp13.500 per kilogram.
Pada 2025, Bulog menyalurkan 795,5 juta kilogram beras SPHP dan 719,3 juta kilogram bantuan pangan. Kemudian pada semester I 2026, penyaluran mencapai 627,56 juta kilogram beras SPHP dan 676,28 juta kilogram bantuan pangan.
Penyaluran tersebut memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat. Program SPHP menghasilkan penghematan belanja rumah tangga sebesar Rp1,99 triliun pada 2025 dan Rp1,57 triliun pada semester I 2026.
Sementara itu, bantuan pangan membantu mengurangi beban pengeluaran masyarakat penerima manfaat sebesar Rp11,96 triliun pada 2025 dan Rp11,24 triliun pada semester I 2026.
Secara keseluruhan, manfaat ekonomi langsung dari kedua program tersebut mencapai Rp13,95 triliun pada 2025 dan Rp12,81 triliun pada semester I 2026. Jika dihitung secara kumulatif, manfaat ekonomi masyarakat mencapai Rp26,76 triliun sepanjang 2025 hingga semester I 2026.
Bulog Perkuat Peran dalam Menjaga Ketahanan Pangan Nasional
Rizal menilai peningkatan multiplier effect menunjukkan bahwa kebijakan pangan pemerintah melalui Bulog mampu menciptakan siklus ekonomi yang saling mendukung.
Menurutnya, petani mendapatkan kepastian pasar, pelaku usaha memperoleh peluang pengembangan bisnis, sementara masyarakat mendapatkan akses pangan dengan harga yang lebih terjangkau.
“Multiplier effect tersebut menunjukkan kebijakan pangan pemerintah melalui Bulog mampu membangun siklus ekonomi yang saling menguatkan,” kata Rizal.
Ia menambahkan, kontribusi Bulog tidak hanya diukur dari jumlah stok pangan yang dikelola. Peran perusahaan juga mencakup perlindungan petani, pengendalian inflasi pangan, stabilisasi harga, serta menjaga daya beli masyarakat.
Ke depan, Bulog berkomitmen meningkatkan efektivitas penyerapan produksi dalam negeri, memperkuat pengelolaan cadangan beras pemerintah, menjaga kualitas pangan selama penyimpanan, serta memastikan distribusi pangan berjalan tepat jumlah, mutu, harga, dan sasaran.
Dengan strategi tersebut, Bulog berharap dapat terus menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus menciptakan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.
Baca Juga “Mentan sebut hilirisasi sawit “senjata” strategis ekspor Indonesia“