Wamen ESDM Pastikan Teknologi PSEL Legok Nangka Aman dan Dukung Energi Bersih
Pemerintah memastikan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menggunakan teknologi yang aman bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Fasilitas ini dirancang untuk mengubah sampah perkotaan menjadi energi listrik sekaligus membantu mengurangi persoalan limbah di kawasan aglomerasi Bandung Raya.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan PSEL Legok Nangka menerapkan teknologi insinerator modern yang mampu mengolah sampah pada suhu tinggi. Teknologi tersebut dinilai dapat memastikan proses pembakaran berlangsung optimal dengan tetap memperhatikan standar lingkungan.
Baca Juga “Mentan Wajibkan Pabrik dan Importir Gula Rafinasi Punya Kebun Tebu Sendiri“
Menurut Yuliot, pengembangan PSEL menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pemanfaatan energi baru terbarukan melalui pengolahan limbah. Selain menghasilkan listrik, proyek ini juga mendukung konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan sampah sebagai sumber daya bernilai tambah.
Teknologi Insinerator PSEL Legok Nangka Gunakan Suhu Tinggi untuk Pengolahan Sampah
Yuliot menjelaskan teknologi insinerator yang digunakan dalam proyek PSEL Legok Nangka bekerja pada suhu di atas 800 derajat Celsius. Proses tersebut membuat material sampah yang masuk ke fasilitas dapat terbakar dan terolah secara maksimal.
“Jadi dengan teknologi insinerator yang dipakai di PSEL Legok Nangka ini, untuk suhu pengolahan sampah itu sekitar di atas 800 derajat Celsius. Jadi seluruh bahan material yang masuk dalam fasilitas itu akan terolah dan terbakar dengan sempurna,” ujar Yuliot.
Pernyataan tersebut disampaikan saat kegiatan groundbreaking PSEL Legok Nangka bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pemerintah menilai pembangunan fasilitas ini menjadi langkah strategis untuk mengatasi peningkatan volume sampah sekaligus menyediakan sumber energi alternatif.
Melalui teknologi tersebut, pemerintah memastikan pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada pembuangan akhir. Sampah akan diproses menjadi energi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan listrik masyarakat dan industri.
PSEL Legok Nangka Olah Ribuan Ton Sampah Setiap Hari
PSEL Legok Nangka dirancang memiliki kemampuan mengolah hingga 2.131 ton sampah per hari. Dari proses tersebut, fasilitas ini diproyeksikan menghasilkan listrik dengan kapasitas sekitar 40 megawatt.
Kapasitas tersebut diharapkan dapat memperkuat pasokan energi berkelanjutan di Jawa Barat. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan jaringan transmisi listrik bersama PT PLN agar energi yang dihasilkan dapat langsung disalurkan setelah fasilitas mulai beroperasi.
Yuliot menyampaikan pembangunan proyek ini membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar pembangunan berjalan sesuai target yang telah ditetapkan.
Pemerintah menargetkan PSEL Legok Nangka mencapai tahap operasi komersial atau commercial operation date (COD) pada 2029. Berbagai proses fasilitasi pembangunan telah dilakukan untuk memastikan proyek berjalan sesuai rencana.
Proyek PSEL Dukung Penyelesaian Masalah Sampah dan Ekonomi Sirkular
Pembangunan PSEL Legok Nangka merupakan bagian dari kebijakan pemerintah dalam mempercepat penyelesaian persoalan sampah perkotaan. Program ini juga menjadi tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas pembangunan fasilitas pengolahan sampah terpadu di berbagai wilayah.
Menurut Yuliot, pengolahan sampah menjadi energi memberikan manfaat ganda bagi masyarakat. Selain mengurangi beban tempat pembuangan akhir, teknologi ini mampu menghasilkan energi yang dapat digunakan untuk kebutuhan publik.
Ia menjelaskan penerapan teknologi modern juga mendukung pengembangan ekonomi sirkular. Berbagai jenis sampah dapat dipilah, diproses, dan dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Salah satu potensi pengolahan tersebut berasal dari sampah plastik. Melalui teknologi tertentu, material plastik dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar terbarukan yang membantu memperkuat ketahanan energi nasional.
Pemerintah juga terus mengembangkan integrasi berbagai teknologi pengolahan sampah agar mampu menghasilkan listrik, bahan bakar minyak terbarukan, hingga bioenergi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat bauran energi nasional secara berkelanjutan.
Pemerintah Pastikan Emisi PSEL Legok Nangka Tetap Terkendali
Salah satu perhatian utama dalam pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis pembakaran adalah pengendalian emisi. Menanggapi kekhawatiran tersebut, Yuliot memastikan PSEL Legok Nangka menggunakan teknologi yang telah memenuhi standar keamanan lingkungan.
Ia menjelaskan pembakaran dengan suhu tinggi dapat membantu mengolah material sampah secara sempurna sekaligus mencegah terbentuknya zat berbahaya seperti dioksin. Teknologi serupa telah diterapkan di berbagai negara sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah modern.
Penerapan standar lingkungan menjadi faktor penting agar fasilitas ini mampu memberikan manfaat tanpa menimbulkan risiko bagi masyarakat sekitar. Pemerintah juga memastikan proses operasional nantinya akan mengikuti ketentuan dan pengawasan yang berlaku.
PSEL Legok Nangka Jadi Model Pengembangan Energi Sampah Nasional
Setelah pembangunan PSEL Legok Nangka, pemerintah berencana mengembangkan fasilitas serupa di kawasan aglomerasi lainnya. Beberapa wilayah yang menjadi perhatian antara lain Bogor Raya, Depok, dan Bekasi Raya.
Pengembangan tersebut bertujuan memperluas pemanfaatan teknologi pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia. Pemerintah berharap model ini dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menghadapi tantangan pengelolaan sampah perkotaan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan proyek PSEL Legok Nangka akan memberikan tiga manfaat utama. Pertama, membantu menyelesaikan persoalan sampah di Bandung Raya. Kedua, menyediakan tambahan energi listrik. Ketiga, menciptakan lingkungan yang lebih bersih.
Proyek dengan nilai investasi sekitar 400 juta dolar Amerika Serikat atau setara sekitar Rp7,2 triliun tersebut memiliki kapasitas pembangkitan listrik sebesar 40,79 megawatt. Selama masa konstruksi sekitar 41 bulan, proyek ini diperkirakan menyerap 1.565 tenaga kerja.
Selain manfaat ekonomi, proyek ini juga diproyeksikan berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 311.874 ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e).
Transformasi Sampah Menjadi Energi Perkuat Masa Depan Energi Bersih Indonesia
Pembangunan PSEL Legok Nangka menunjukkan perubahan pendekatan pemerintah dalam menangani persoalan sampah. Limbah yang sebelumnya menjadi tantangan lingkungan kini diarahkan menjadi sumber energi baru yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial.
Dengan dukungan teknologi insinerator modern, pengawasan lingkungan, serta kolaborasi antarinstansi, proyek ini diharapkan menjadi contoh pengelolaan sampah terpadu di Indonesia. Ke depan, pengembangan fasilitas serupa dapat memperkuat transisi energi bersih sekaligus menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga “Pemkab luncurkan Batang Investa kemudahan dan kepastian investasi“