Update Kebijakan Subsidi & Bansos

Kementerian ESDM Prioritaskan Bantuan Ibu dan Anak NTT

Kementerian ESDM Prioritaskan Bantuan Ibu dan Anak Korban Gempa NTT
Tim ESDM Siaga Bencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprioritaskan kebutuhan ibu dan anak di sejumlah lokasi pengungsian korban gempa di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tim menyalurkan bantuan secara langsung sekaligus mendata kebutuhan warga yang belum terpenuhi. Langkah tersebut dilakukan karena dampak gempa tersebar di sejumlah wilayah dan tidak terkonsentrasi pada satu lokasi.

Ketua Tim ESDM Siaga Bencana Rudy Sufahriadi mengatakan kebutuhan dasar masyarakat tetap menjadi perhatian. Namun, tim menemukan sejumlah kebutuhan khusus ibu dan anak yang masih harus dipenuhi.

“Dukungan pertama adalah kebutuhan ibu dan anak, makanan pokoknya masyarakat, itu yang pertama dulu,” kata Rudy di Posko Dua ESDM Siaga Bencana, Kecamatan Reok, Manggarai.

Tim ESDM Salurkan Sembako dan Kebutuhan Bayi
Tim ESDM menyalurkan bantuan pangan melalui Posko Dua ESDM Siaga Bencana Wilayah Tengah di Reok. Bantuan tersebut mencakup 100 karung beras, 20 dus mi instan, dan lima dus bubur bayi.

Baca Juga “Naik 10%, Grand Slam AS Terbuka 2026 Tawarkan Hadiah Terbesar dalam Sejarah

Tim juga menyediakan 10 dus susu, 100 bungkus gula pasir, serta 100 botol minyak goreng. Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan warga yang terdampak gempa.

Selain bantuan yang telah tiba, sejumlah kebutuhan lain masih dalam perjalanan menuju lokasi terdampak. Rudy menyebut tenda dan selimut untuk bayi termasuk bantuan yang sedang disiapkan.

“Ada permintaan yang masih ada di jalan, sebelum masyarakat minta kita sudah siapkan, tinggal nunggu kedatangan,” ujarnya.

Bantuan Kesehatan Menjangkau Pengungsi
Selain kebutuhan pangan, Tim ESDM memberikan bantuan kesehatan kepada masyarakat terdampak. Bantuan tersebut terdiri atas 15 jenis obat, vitamin, dan kebutuhan medis habis pakai.

Setiap jenis bantuan kesehatan disediakan sebanyak 30 boks. Obat dan perlengkapan tersebut diarahkan untuk menangani sejumlah keluhan yang umum muncul di lokasi pengungsian.

Bantuan mencakup obat untuk demam, batuk, diare, alergi, dan gatal. Tim juga menyediakan oralit, vitamin anak, pembalut wanita, serta minyak kayu putih.

Ketersediaan perlengkapan tersebut menjadi penting karena warga harus menjalani aktivitas di tengah kondisi pengungsian. Kelompok bayi, anak-anak, dan perempuan juga memiliki kebutuhan khusus yang perlu diperhatikan selama masa tanggap darurat.

Tim ESDM Jangkau Lokasi Pengungsian Terpencil
Rudy mengatakan tim tidak hanya menyasar lokasi pengungsian yang mudah dijangkau. Petugas juga berupaya mendatangi masyarakat di wilayah yang lebih jauh dari pusat bantuan.

Menurutnya, kerusakan dan dampak gempa tersebar di sejumlah titik. Kondisi tersebut membuat distribusi bantuan membutuhkan pemetaan kebutuhan secara lebih menyeluruh.

“Bencana ini kan parsial ya, tempatnya banyak, kecil-kecil, enggak di satu tempat,” kata Rudy.

Pendekatan tersebut memungkinkan bantuan disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi. Tim dapat mengidentifikasi kebutuhan yang berbeda antara posko besar dan pengungsian mandiri.

Warga Desa Salama Masih Butuh Tenda dan Selimut
Kebutuhan mendesak juga terlihat di salah satu posko mandiri di Desa Salama, Kecamatan Reok. Sejumlah warga masih bertahan di lokasi tersebut setelah rumah mereka mengalami kerusakan akibat gempa.

Marifah, 50 tahun, warga Desa Salama, mengatakan warga membutuhkan tenda, selimut, dan terpal. Sebagian warga belum berani kembali ke rumah sehingga harus bertahan di tempat pengungsian sederhana.

“Paling butuh saat ini kita tenda sama selimut. Soalnya malam dingin sekali,” ujar Marifah.

Menurutnya, warga juga membutuhkan perlengkapan untuk bayi. Popok, minyak telon, minyak kayu putih, dan susu menjadi sejumlah kebutuhan yang masih dicari.

Kondisi tersebut diperburuk dengan tutupnya sejumlah toko di sekitar permukiman setelah gempa. Akibatnya, warga mengalami keterbatasan dalam memperoleh kebutuhan sehari-hari.

Posko Mandiri Menampung Bayi dan Balita
Posko mandiri yang ditempati Marifah menampung sekitar 30 orang. Di antara para pengungsi terdapat bayi dan balita yang membutuhkan perhatian khusus.

Sebagian warga masih berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Mereka, antara lain, memasak menggunakan kayu bakar untuk menyiapkan makanan bagi keluarga.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pengungsi tidak hanya berkaitan dengan makanan pokok. Sarana perlindungan, perlengkapan tidur, kebutuhan bayi, dan layanan kesehatan juga menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana.

Puluhan Ribu Warga Manggarai Masih Mengungsi
Berdasarkan pemutakhiran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 22 Agustus pukul 16.00 WIB, sebanyak 41.427 orang mengungsi di Kabupaten Manggarai.

BNPB juga mencatat 285 korban luka di wilayah tersebut. Secara keseluruhan, gempa berkekuatan M7,7 di NTT menyebabkan 150.576 orang mengungsi.

Hingga 22 Agustus, pemerintah telah mendistribusikan 954 ton bantuan logistik ke wilayah terdampak. Penyaluran berlangsung sejak 15 Agustus melalui jalur Labuan Bajo dan Maumere.

Bantuan tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di berbagai wilayah terdampak. Distribusi melalui beberapa jalur juga menjadi bagian dari upaya menjangkau lokasi yang tersebar.

Penanganan Gempa NTT Perlu Fokus pada Kelompok Rentan
Besarnya jumlah pengungsi membuat distribusi bantuan membutuhkan koordinasi dan pemetaan yang berkelanjutan. Kondisi geografis NTT juga menjadi tantangan karena masyarakat terdampak berada di berbagai titik.

Prioritas terhadap ibu, bayi, dan anak menjadi penting selama masa tanggap darurat. Kelompok tersebut membutuhkan makanan, perlengkapan kebersihan, perlindungan dari cuaca, serta layanan kesehatan yang sesuai.

Tim ESDM terus mendata kebutuhan di lapangan sambil menyalurkan bantuan yang tersedia. Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan bantuan tidak hanya terkonsentrasi di lokasi pengungsian utama.

Dengan jumlah pengungsi yang masih besar, kebutuhan warga akan terus berubah seiring proses pemulihan. Pemantauan lapangan dan distribusi bantuan secara merata menjadi kunci untuk memastikan masyarakat terdampak memperoleh dukungan sesuai kebutuhannya.

Baca Juga “KESDM: Listrik di titik terdampak Manggarai NTT hampir pulih