Harga pangan nasional kembali bergerak naik pada Kamis, 19 Februari 2026. Cabai rawit merah menyentuh Rp82.950 per kilogram (kg), sementara telur ayam ras berada di level Rp32.300 per kg. Kenaikan ini terjadi di tengah curah hujan tinggi yang mengganggu proses panen di sejumlah sentra produksi.
Berdasarkan data Panel Harga dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis yang dikelola Bank Indonesia, harga bawang merah tercatat Rp45.350 per kg pada pukul 10.03 WIB. Bawang putih juga naik dan menembus Rp40.750 per kg.
Untuk komoditas beras, harga beras kualitas bawah I tercatat Rp14.750 per kg dan kualitas bawah II Rp15.100 per kg. Beras medium I berada di Rp15.950 per kg, sedangkan medium II Rp16.250 per kg. Beras super I dijual Rp17.200 per kg dan super II Rp16.850 per kg.
Komoditas cabai lainnya juga menunjukkan harga tinggi. Cabai merah besar mencapai Rp45.000 per kg. Cabai merah keriting menyentuh Rp51.100 per kg, dan cabai rawit hijau berada di Rp59.200 per kg.
Untuk protein hewani, daging ayam ras dijual Rp41.050 per kg. Daging sapi kualitas I mencapai Rp146.200 per kg, sedangkan kualitas II berada di Rp133.950 per kg. Gula pasir premium tercatat Rp20.500 per kg dan gula lokal Rp18.600 per kg.
Harga minyak goreng curah berada di Rp19.050 per liter. Minyak goreng kemasan bermerek I dijual Rp22.750 per liter dan kemasan bermerek II Rp21.800 per liter. Pergerakan harga ini menjadi perhatian menjelang Ramadan karena berpotensi mendorong inflasi pangan.
Bapanas Ungkap Penyebab Kenaikan Harga Cabai
Sebelumnya, Badan Pangan Nasional menjelaskan penyebab lonjakan harga cabai rawit merah yang sempat menembus Rp100.000 per kg. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan stok cabai sebenarnya tersedia di lahan petani.
Menurut Ketut, curah hujan tinggi membuat petani menunda panen. Banyak tanaman dalam kondisi siap petik, tetapi petani enggan mengambil risiko karena hujan dapat merusak kualitas hasil panen. Kondisi ini membuat pasokan ke pasar induk tersendat.
Pemerintah kemudian menyiapkan langkah stabilisasi. Bapanas menjembatani distribusi cabai rawit merah dari daerah produsen ke pasar induk seperti Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Tanah Tinggi. Langkah ini bertujuan menambah suplai agar harga di tingkat grosir turun.
Baca Juga “Daftar Bank Bangkrut hingga Februari 2026, BPR Kamadana Jadi yang Terbaru“
Cabai dari program Champion Cabai binaan Kementerian Pertanian akan dipasok dengan harga Rp45.000 per kg di tingkat petani. Pedagang di pasar induk menyerapnya sekitar Rp50.000 per kg dan menargetkan harga eceran Rp60.000 hingga Rp65.000 per kg.
Pasokan tersebut berasal dari berbagai daerah, seperti Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Enrekang Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Solok Sumatera Barat, hingga Aceh. Target distribusi minimal mencapai dua ton per hari selama dua pekan.
Pemerintah berharap tambahan pasokan ini mampu menekan harga Rp10.000 hingga Rp15.000 per kg di tingkat pasar induk. Jika intervensi tidak dilakukan, harga berisiko bertahan di kisaran Rp75.000 hingga Rp80.000 per kg, bahkan bisa lebih tinggi di tingkat konsumen.
Ikappi Soroti Peran Tengkulak dalam Rantai Distribusi
Di sisi lain, Ikatan Pedagang Pasar Indonesia menilai rantai distribusi masih menjadi tantangan utama stabilitas harga pangan. Sekretaris Jenderal Ikappi, Reynaldi Sarijowan, menyebut praktik tengkulak atau perantara berlebihan dapat memengaruhi pembentukan harga di pasar.
Menurutnya, harga akan lebih terkendali jika pasokan melimpah dan distribusi berjalan lancar. Sebaliknya, keterbatasan pasokan dan lonjakan permintaan dapat memicu kenaikan tajam. Ia menekankan pentingnya kepastian pasokan agar pedagang berani menjual dengan margin wajar.
Ikappi juga mencatat harga cabai rawit merah sempat melampaui Rp100.000 per kg di sejumlah daerah. Selain itu, harga minyak goreng MinyaKita di beberapa wilayah belum sepenuhnya mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET).
Reynaldi mendorong pemerintah memperbaiki tata kelola rantai pasok dari hulu ke hilir. Ia menilai koordinasi antara Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, Badan Pusat Statistik, dan Kementerian Perdagangan perlu diperkuat untuk memastikan stabilitas harga.
Prospek Harga Pangan Jelang Ramadan
Kenaikan harga pangan pada Februari ini menjadi sinyal awal menjelang Ramadan. Permintaan bahan pokok biasanya meningkat signifikan, terutama untuk cabai, daging ayam, gula, dan minyak goreng.
Pemerintah menyatakan akan terus memantau perkembangan harga melalui panel data nasional dan mempercepat distribusi dari sentra produksi. Upaya stabilisasi di pasar induk diharapkan meredam gejolak harga di tingkat konsumen.
Dengan pasokan tambahan dan pengawasan distribusi, harga cabai rawit merah diharapkan kembali ke kisaran Rp60.000–Rp65.000 per kg dalam waktu dekat. Stabilitas harga pangan menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat serta mengendalikan inflasi pangan pada kuartal pertama 2026.
Baca Juga “Kebijakan Purbaya Belum Cukup buat Geber Kredit Bank“