Indonesia Mulai Pembangunan Fisik Dua Kapal Selam Scorpène Bersama Naval Group
Indonesia resmi memasuki tahap pembangunan fisik dua unit kapal selam Scorpène setelah PT PAL Indonesia bersama perusahaan pertahanan Prancis, Naval Group, melakukan first steel cutting pada Juli 2026. Tahap ini menandai dimulainya proses konstruksi setelah rangkaian persiapan teknis dan verifikasi kemampuan industri dinyatakan selesai.
Baca Juga “Industri Pengolahan jadi Penopang Utama Ekspor Indonesia“
Proses pembangunan dimulai lebih cepat dari jadwal awal yang direncanakan pada September 2026. Percepatan ini terjadi setelah kedua pihak menyelesaikan tahapan qualification section, yang menjadi syarat utama sebelum masuk ke fase produksi fisik kapal selam.
Program ini menjadi bagian dari kontrak kerja sama antara Kementerian Pertahanan RI, PT PAL Indonesia, dan Naval Group yang ditandatangani pada 2024. Proyek tersebut bertujuan membangun dua kapal selam kelas 1.800–2.800 ton melalui skema alih teknologi penuh di Indonesia.
Qualification Section Jadi Dasar Pembangunan Kapal Selam
Direktur Produksi PT PAL Indonesia, Diana Rosa, menjelaskan bahwa qualification section menjadi tahap penting yang memastikan kesiapan seluruh elemen produksi. Tahap ini mencakup verifikasi sumber daya manusia, fasilitas produksi, sistem manufaktur, serta standar pengendalian mutu.
Menurut Diana, keberhasilan tahap tersebut menunjukkan bahwa PT PAL telah memenuhi standar industri kapal selam kelas dunia. Ia menegaskan bahwa proses ini bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga bagian dari investasi jangka panjang dalam penguatan industri pertahanan nasional.
“Program ini merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kompetensi engineer Indonesia, memperkuat industri nasional, dan membangun ekosistem manufaktur berteknologi tinggi yang mampu bersaing di tingkat global,” ujar Diana Rosa.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan tahap awal ini membuktikan proses transfer teknologi berjalan efektif dan memberikan peningkatan nyata terhadap kemampuan insinyur Indonesia.
Pelatihan Insinyur Indonesia di Prancis Perkuat Alih Teknologi
Sebagai bagian dari proses penguasaan teknologi, PT PAL Indonesia mengirimkan puluhan insinyur ke fasilitas Naval Group di Prancis. Para insinyur tersebut mengikuti pelatihan intensif di berbagai bidang teknis.
Pelatihan mencakup pengelasan presisi tinggi, rekayasa konstruksi kapal, sistem mekanikal, sistem kelistrikan, hingga pengendalian mutu produksi. Seluruh materi pelatihan dirancang untuk memenuhi standar industri kapal selam modern.
Setelah kembali ke Indonesia, para insinyur tersebut terlibat langsung dalam proses qualification section. Kinerja mereka kemudian diverifikasi oleh tim teknis Naval Group untuk memastikan standar internasional terpenuhi.
Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi alih teknologi bertahap yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan produksi mandiri di dalam negeri.
Naval Group Tekankan Penguatan Industri Jangka Panjang
Program Director Naval Group, Vincent Vimont, menilai keberhasilan qualification section menunjukkan kesiapan PT PAL sebagai mitra strategis dalam industri kapal selam modern.
Menurutnya, kerja sama ini tidak hanya berfokus pada produksi dua unit kapal selam, tetapi juga pada pembangunan fondasi industri pertahanan yang berkelanjutan di Indonesia.
“Kolaborasi ini bukan sekadar membangun dua unit kapal selam, tetapi membangun fondasi kemampuan industri yang berkelanjutan,” ujar Vincent Vimont.
Ia menekankan bahwa transfer teknologi dan pengembangan sumber daya manusia menjadi elemen penting dalam memastikan Indonesia mampu mengembangkan industri pertahanan secara mandiri di masa depan.
Target Whole Local Production untuk Kemandirian Industri
Program kapal selam Scorpène ini ditargetkan tidak berhenti pada proses perakitan, tetapi berkembang menuju whole local production. Artinya, Indonesia diharapkan mampu membangun kapal selam secara penuh di dalam negeri.
PT PAL Indonesia akan terus meningkatkan kapasitas produksi melalui penguasaan teknologi dari Naval Group. Proses ini mencakup peningkatan infrastruktur galangan, sistem produksi, serta kemampuan rekayasa desain kapal selam.
Jika target tersebut tercapai, Indonesia akan memiliki kemampuan strategis dalam memproduksi alutsista bawah laut secara mandiri. Hal ini juga akan mengurangi ketergantungan terhadap impor teknologi pertahanan dari luar negeri.
Dampak Ekonomi dan Penguatan Rantai Industri Nasional
Selain aspek pertahanan, proyek ini diperkirakan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Pembangunan dua kapal selam Scorpène diproyeksikan menyerap lebih dari 2.000 tenaga kerja langsung maupun tidak langsung.
Proyek ini juga melibatkan berbagai industri dalam negeri sebagai bagian dari rantai pasok nasional. Industri tersebut mencakup sektor logam, elektronika, sistem mekanik, hingga komponen pendukung lainnya.
Keterlibatan industri lokal diharapkan dapat memperkuat ekosistem manufaktur berteknologi tinggi di Indonesia. Selain itu, proyek ini juga membuka peluang pengembangan industri turunan di sektor pertahanan dan maritim.
Penguatan Kapasitas Pertahanan dan Teknologi Nasional
Program pembangunan kapal selam Scorpène menjadi bagian dari upaya jangka panjang Indonesia dalam memperkuat kapasitas pertahanan laut. Kapal selam memiliki peran strategis dalam menjaga kedaulatan wilayah perairan Indonesia yang luas.
Melalui kerja sama dengan Naval Group, Indonesia tidak hanya memperoleh platform alutsista baru, tetapi juga akses terhadap teknologi dan pengetahuan industri pertahanan modern.
Kombinasi antara alih teknologi, pelatihan sumber daya manusia, dan pembangunan industri lokal diharapkan mampu menciptakan ekosistem pertahanan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Tahap Awal Menuju Kemandirian Industri Pertahanan
Dimulainya pembangunan fisik dua kapal selam Scorpène menandai langkah penting Indonesia dalam memperkuat industri pertahanan nasional. Proyek ini tidak hanya berfokus pada pengadaan alutsista, tetapi juga pada penguasaan teknologi strategis jangka panjang.
Dengan dukungan PT PAL Indonesia dan Naval Group, program ini diharapkan menjadi fondasi bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia di masa depan. Keberhasilan proyek ini juga berpotensi membuka peluang kerja sama lanjutan di bidang teknologi maritim dan pertahanan tingkat lanjut.
Baca Juga “Pertamina Patra Niaga-Kementerian KP perkuat penyediaan BBM nelayan“