Regulasi Digital & E-commerce

Ekonomi Indonesia Bertahan di Tengah Gejolak Global

Ekonomi Indonesia Hadapi Tekanan Global di Tengah Pelemahan Rupiah dan Ketidakpastian Pasar

Perekonomian Indonesia kembali menghadapi tekanan global di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, koreksi tajam pasar saham, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik internasional. Pergerakan IHSG dan kurs rupiah sepanjang April hingga Mei 2026 memunculkan kekhawatiran baru terhadap ketahanan ekonomi nasional.

Baca Juga “Presiden Prabowo Paparkan Arah Kebijakan Ekonomi Nasional Melalui KEM PPKF 2027, Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksi Capai 6,5 Persen

Di satu sisi, ekonomi Indonesia masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,61 persen pada kuartal I-2026. Namun di sisi lain, tekanan eksternal seperti kenaikan harga energi dunia, penguatan dolar Amerika Serikat, dan arus keluar modal asing mulai membebani stabilitas ekonomi domestik.

Kondisi tersebut membuat pemerintah dan pelaku pasar menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, stabilitas fiskal, dan ketahanan nilai tukar.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dinilai Belum Sepenuhnya Berkualitas

Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen pada awal 2026 dianggap sebagai capaian makroekonomi yang cukup kuat di tengah perlambatan ekonomi global. Namun sejumlah pengamat menilai angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil masyarakat dan sektor ekonomi domestik.

Secara tahunan, aktivitas ekonomi memang masih tumbuh positif. Namun kualitas pertumbuhan dinilai belum merata karena belum sepenuhnya mampu menciptakan lapangan kerja formal yang stabil dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Jumlah pengangguran Indonesia pada Februari 2026 masih berada di kisaran 7,24 juta orang. Selain itu, sebagian besar tenaga kerja masih bekerja di sektor informal yang rentan terhadap tekanan ekonomi.

Data juga menunjukkan sekitar 49 juta penduduk bekerja dalam kategori pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menghasilkan pekerjaan berkualitas.

Rupiah dan IHSG Tertekan Akibat Ketidakpastian Global

Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia semakin terlihat melalui pelemahan rupiah dan koreksi IHSG dalam beberapa bulan terakhir. Nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat.

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve membuat investor global kembali mengalihkan dana ke aset berbasis dolar.

Selain faktor suku bunga, ketegangan geopolitik global dan kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia juga memperkuat fenomena flight to quality. Dalam kondisi penuh ketidakpastian, investor cenderung memindahkan dana dari pasar negara berkembang ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti obligasi pemerintah AS.

Kondisi tersebut tidak hanya menekan rupiah, tetapi juga meningkatkan volatilitas pasar saham domestik.

Pemerintah Tegaskan Kondisi Berbeda dengan Krisis 1998

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda jauh dibanding krisis moneter 1998.

Menurut dia, fondasi ekonomi nasional kini lebih kuat dan stabil dibanding hampir tiga dekade lalu. Ia juga menilai pelemahan rupiah saat ini tidak bisa langsung disamakan dengan situasi menjelang krisis finansial 1998.

“Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi.Beda, 1998 itu kebijakannya salah dan instability social-politic terjadi setelah setahun kita resesi,” ujar Purbaya di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam fase ekspansi dan mencatat pertumbuhan positif. Berbeda dengan 1998 ketika ekonomi mengalami resesi panjang sebelum krisis politik terjadi.

Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga untuk Jaga Stabilitas

Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada Mei 2026.

BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6 persen.

Langkah tersebut diambil untuk menjaga daya tarik aset domestik dan menahan arus keluar modal asing. Dalam kondisi rupiah melemah, kenaikan suku bunga biasanya dilakukan untuk memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan nasional.

Namun kebijakan tersebut juga memiliki risiko terhadap pertumbuhan ekonomi. Suku bunga tinggi dapat memperlambat pertumbuhan kredit, menekan investasi, dan mengurangi daya beli masyarakat.

Karena itu, bank sentral menghadapi dilema antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Subsidi Energi Jadi Penahan Gejolak Inflasi Domestik

Di tengah lonjakan harga energi global akibat ketegangan Timur Tengah dan gangguan distribusi minyak dunia, pemerintah memilih mempertahankan subsidi energi untuk menjaga daya beli masyarakat.

Pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak naik hingga akhir 2026 meski harga minyak dunia sempat menembus USD100 per barel.

Langkah tersebut dinilai membantu menjaga inflasi domestik tetap terkendali di kisaran 4,1 persen ketika banyak negara lain mengalami lonjakan inflasi lebih tinggi.

Kebijakan subsidi energi juga didukung meningkatnya pendapatan ekspor komoditas Indonesia, terutama batu bara dan LNG. Permintaan energi alternatif dari negara-negara Asia Timur membantu meningkatkan ekspor nonmigas Indonesia hingga 18,4 persen pada awal 2026.

Meski demikian, sejumlah ekonom mengingatkan subsidi energi tetap menjadi beban fiskal yang perlu dikelola secara hati-hati agar tidak membebani APBN dalam jangka panjang.

Belanja Pemerintah Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi

Salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini adalah peningkatan belanja pemerintah.

Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah tumbuh sebesar 21,81 persen secara tahunan dan menjadi kontributor terbesar pertumbuhan Produk Domestik Bruto pada awal 2026.

Belanja negara hingga kuartal II-2026 tercatat mencapai Rp1.082,8 triliun atau naik 34,3 persen dibanding tahun sebelumnya.

Pemerintah menilai belanja fiskal yang ekspansif membantu menjaga aktivitas ekonomi domestik di tengah tekanan global. Berbagai program seperti Makan Bergizi Gratis, pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, dan penguatan sekolah rakyat disebut ikut mendorong konsumsi dan ekonomi daerah.

Namun sejumlah analis menilai pertumbuhan yang terlalu bergantung pada belanja pemerintah memiliki risiko jangka panjang apabila tidak diikuti peningkatan investasi dan produktivitas sektor swasta.

Pemerintah Dorong Strategi Survival Mode

Menghadapi tekanan ekonomi global, pemerintah memperkenalkan pendekatan survival mode dalam menjalankan kebijakan ekonomi nasional.

Pendekatan tersebut bukan berarti ekonomi Indonesia berada dalam kondisi krisis, melainkan sebagai bentuk kewaspadaan menghadapi situasi global yang tidak menentu.

Pemerintah menekankan pentingnya efisiensi anggaran, pengawasan program, dan penguatan koordinasi lintas sektor agar kebijakan fiskal tetap efektif.

“Kita tidak boleh main-main. Kalau programnya main-main, kita akan digiling bangsa lain,” tegas Menteri Keuangan.

Pendekatan survival mode juga diarahkan untuk memperkuat penerimaan negara dan mengurangi potensi kebocoran di sektor perpajakan serta bea cukai.

Presiden Prabowo Tetapkan Target Ekonomi 2027

Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027 menegaskan APBN merupakan alat utama untuk memperkuat ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2027 berada di kisaran 5,8 hingga 6,5 persen sebagai langkah menuju target pertumbuhan 8 persen pada 2029.

Selain itu, pemerintah menargetkan inflasi berada di kisaran 1,5 hingga 3,5 persen dan menjaga nilai tukar rupiah pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Pemerintah juga menargetkan penurunan angka kemiskinan, pengangguran

Baca Juga “Wapres Gibran Dampingi Presiden Prabowo Sampaikan Arah Kebijakan Ekonomi 2027 dalam Rapat Paripurna DPR RI